Abdurrahman bin Auf

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Abdurrahman bin Auf

Post  Wahyu Andika on Mon Feb 01, 2010 10:45 pm


Sa'ad menunjukkan pasar tempat
berjual beli kepada Abdurrahman. Maka, mulailah Abdurrahman berniaga di
sana, berjual beli, melaba dan merugi. Belum berapa lama dia berdagang,
terkumpullah uangnya sekadar cukup untuk mahar menikah. Dia datang
kepada Rasulullah memakai harum-haruman...

----------
Abdurrahman bin Auf

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan yang mula-mula masuk
Islam; termasuk kelompok sepuluh yang diberi kabar gembira oleh
Rasulullah masuk surga; termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah
(sebagai formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah Umar bin Khattab
r.a.; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah saw. untuk berfatwa
di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum
muslimin.

Namanya pada masa jahiliah adalah Abd Amr. Setelah masuk Islam
Rasulullah saw. memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Itulah dia Abdurrahman
bin Auf r.a.

Abdurrahman bin Auf masuk Islam sebelum Rasulullah saw. masuk ke rumah
Al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar ash-Shidiq masuk Islam. Sama
halnya dengan kelompok kaum muslimin yang pertama-tama masuk Islam,
Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum
kafir Quraisy, tetapi dia sabar dan tetap sabar. Pendiriannya teguh dan
senantiasa teguh. Dia menghindari dari kekejaman kaum Quraisy, tetapi
selalu setia dan patuh membenarkan risalah Muhammad. Kemudian dia turut
pindah (hijrah) ke Habasyah bersama-sama kawan-kawan seiman untuk
menyelamatkan diri dan agama dari tekanan kaum Quraisy yang senantiasa
menerornya.

Tatkala Rasulullah saw. dan para sahabat beliau diijinkan Allah hijrah
ke Madinah. Abdurrahman menjadi pelopor bagi orang-orang yang hijrah
untuk Allah dan Rasul-Nya. Dalam perantauan, Rasulullah mempersaudarakan
orang-orang muhajirin dan orang-orang Anshar. Maka Abdurrahman bin Auf
dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi' al-Anshari r.a.

Pada suatu hari Sa'ad berkata kepada saudaranya, Abdurrahman, "Wahai
saudaraku Abdurrahman! Aku termasuk orang kaya di antara penduduk
Madinah. Hartaku banyak. Saya mempunyai dua bidang kebun yang luas, dan
dua orang pembantu. Pilihlah olehmu salah satu di antara kedua kebun
itu, kuberikan kepadamu mana yang kamu sukai. Begitu pula salah seorang
di antara kedua pembantuku, akan kuserahkan mana yang kamu senangi,
kemudian aku nikahkan engkau dengan dia."

Jawab Abdurrahman bin Auf, "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada
Saudara, kepada keluarga Saudara, dan kepada harta Saudara. Saya hanya
akan minta tolong kepada Saudara menunjukkan di mana letaknya pasar
Madinah ini."

Sa'ad menunjukkan pasar tempat berjual beli kepada Abdurrahman. Maka,
mulailah Abdurrahman berniaga di sana, berjual beli, melaba dan merugi.
Belum berapa lama dia berdagang, terkumpullah uangnya sekadar cukup
untuk mahar menikah. Dia datang kepada Rasulullah memakai harum-haruman.
Beliau menyambut kedatangan Abdurrahman seraya berkata, "Wah, alangkah
wanginya kamu, hai Abdurrahman."

Kata Abdurrahman, "Saya hendak menikah ya Rasulullah."


Tanya Rasulullah, "Apa mahar yang kamu berikan kepada istrimu?"
Jawab Abdurrahman, "Emas seberat biji kurma."

Kata Rasulullah, "Adakan kenduri, walau hanya dengan menyembelih seekor
kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."

Kata Abdurrahman, "Sejak itu dunia datang menghadap kepadaku (hidupku
makmur dan bahagia). Hingga seandainya aku angkat sebuah batu, maka
dibawahnya kudapati emas dan perak."

Dalam Perang Badar, Abdurrahman turut berjihad fi sabilillah, dan dia
berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, antara lain Umair bin Utsman bin
Ka'ab bin Auf at-Taimy. Dalam Perang Uhud, dia tetap teguh bertahan di
samping Rasulullah, ketika tentara muslimin banyak yang meninggalkan
medan laga. Ketika selesai perang dan kaum muslimin keluar sebagai
pemenang, Abdurrahman mendapatkan hadiah sembilan luka parah menganga di
tubuhnya dan dua puluh luka kecil. Walau luka kecil, namun di antaranya
ada yang sedalam anak jari. Sekalipun begitu, perjuangan dan
pengorbanan Abdurrahman di medan tempur jauh lebih kecil bila
dibandingkan dengan perjuangan dan pengorbanannya dengan harta benda.

Pada suatu hari Rasulullah saw. berpidato membangkitkan semangat jihad
dan pengorbanan kaum muslimin. Beliau berdiri ditengah-tengah para
sahabat. Kata beliau, antara lain, "Bersedekahlah tuan-tuan! Saya hendak
mengirim satu pasukan ke medan perang."

Mendengar ucapan Rasulullah saw. tersebut, Abdurrahman bergegas pulang
ke rumahnya dan cepat pula kembali ke hadapan Rasululalh di
tengah-tengah kaum muslimin. Katanya, "Ya Rasulallah! saya mempunyai
uang emapt ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah dan dua ribu saya
tinggalkan untuk keluarga saya." Lalu uang yang dibawa dari rumah itu
diserahkan kepada Rasulullah dua ribu.

Sabda Rasulullah, "Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu terhadap
harta yang kamu berikan dan semoga Allah memberkati pula harta yang
kamu tinggalkan untuk keluargamu."

Ketika Rasulullah bersiap untuk menghadapi Perang Tabuk, beliau
membutuhkan jumlah dana dan tentara yang tidak sedikit, karena jumlah
tentara musuh, yaitu tentara Rum cukup banyak. Di samping itu, Madinah
tengah mengalami musim panas. Perjalanan ke Tabuk sangat jauh dan sulit.
Dana yang tersedia hanya sedikit. Begitu pula hewan kendaraan tidak
mencukupi. Banyak di antara kaum muslimin yang kecewa dan sedih karena
ditolak Rasulullah saw. menjadi tentara yang akan turut berperang, sebab
kendaraan untuk mereka tidak mencukupi. Mereka yang ditolak itu kembali
pulang dengan air mata bercucuran kesedihan, karena mereka tidak
mempunyai apa-apa untuk disumbangkannya. Mereka yang tidak terima itu
terkenal dengan nama Al-Bakkaain (orang yang menangis) dan pasukan yang
berangkat terkenal dengan sebutan Jaisyul 'Usrah (pasukan susah).

Karena itu, Rasulullah memerintah kaum muslimin mengorbankan harta benda
mereka untuk jihad fie sabilillah. Dengan patuh dan setia kaum muslimin
memperkenankan seruan Nabi yang mulia. Abdurrahman turut memelopori
dengan menyerahkan dua ratus uqiyah emas. Maka kata Umar bin Khattab
berbisik kepada Rasulullah saw., "Agaknya Abdurrahman berdosa, tidak
meninggalkan uang sedikit juga untuk istrinya."

Rasulullah saw. bertanya kepada Abdurrahman, "Adakah engkau tinggalkan
uang belanja untuk istrimu?"

Abdurrahman menjawab, "Ada! mereka saya tinggali lebih banyak daripada
yang saya sumbangkan."

Tanya Rasulullah saw., "Berapa?"

Jawab Abdurrahman, "Sebanyak rezeki, kebaikan, dan upah yang dijanjikan
Allah."

Pasukan tentara muslimin berangkat ke Tabuk. Allah memuliakan
Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperolah kaum muslimin
seorang jua pun, yaitu ketika waktu salat sudah masuk, Rasulullah
terlambat hadir. Maka, Abdurrahman menjadi imam salat berjamaah bagi
kaum muslimin ketika itu. Setelah hampir selesai rakaat pertama,
Rasulullah tiba, lalu beliau salat di belakang Abdurrahman dan
mengikutinya sebagai makmum. Apakah lagi yang lebih mulia dan utama
daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para nabi, yaitu
Muhammad Rasulullah saw.

Setelah Rasululalh saw. wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga
kesejahteraan dan keselamatan ummahatul mukminin (istri para
Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan
mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu yang mulia itu bila bepergian.
Apabila para ibu tersebut pergi haji, Abdurrahman turut pula
bersama-sama mereka. Dia yang menaikkan dan menurunkan para ibu itu ke
atas haudaj (sekedup) khusus mereka. Itulah salah satu bidang khusus
yang ditangani Abdurrahman. Dia pantas bangga dan bahagia dengan tugas
dan kepercayaan yang dilimpahkan para ibu orang-orang mukmin kepadanya.

Salah satu bukti yang dibaktikan Abdurrahman kepada ibu-ibu yang mulia,
ia pernah membeli sebidang tanah seharga empat ribu dinar. Lalu tanah
itu dibagi-bagikannya seluruhnya kepada fakir miskin Bani Zuhrah dan
kepada para ibu-ibu orang mukmin, istri Rasulullah. Ketika jatah ibu
Aisyah r.a. disampaikan orang kepadanya, ibu yang mulia itu bertanya,
"Siapa yang menghadiahkan tanah itu buat saya?"

Orang itu menjawab, "Abdurrahman bin Auf."

Kata ibu Aisyah r.a., Rasulullah saw. pernah bersabda, "Tidak ada orang
yang kasihan kepada kalian sepeninggalku, kecuali orang-orang yang
sabar."

Begitulah doa Rasulullah saw. bagi Abdurrahman. Semoga Allah senantiasa
melimpahkan berkah-Nya sepanjang hidupnya, sehingga Abdurrahman menjadi
orang terkaya di antara para sahabat. Perniagaannya selalu meningkat dan
berkembang. Kafilah dagangnya terus-menerus hilir mudik dari dan ke
Madinah mengangkut gandum, tepung, minyak, pakaian, barang-barang
pecah-belah, wangi-wangian dan segala kebutuhan penduduk.

Pada suatu hari iring-iringan kafilah dagang Abdurrahman terdiri dari
tujuh ratus unta bermuatan penuh tiba di Madinah. Ya! tujuh ratus ekor
unta bermuatan penuh, tidak salah. Semuanya membawa pangan, sandang, dan
barang-barang lain kebutuhan penduduk. Ketika mereka masuk kota, bumi
seolah-olah bergetar. Terdengar suara gemuruh dan hiruk pikuk. Sehingga
Aisyah bertanya, "Suara apa hiruk pikuk itu?"

Dijawab orang, "Kafilah Abdurrahman dengan iring-iringan tujuh ratus
ekor unta bermuatan penuh membawa pangan, sandang serta lainnya.

Kata Asiyah r.a. "Semoga Allah melimpahkan berkat-Nya bagi Abdurrahman
dengan baktinya di dunia, serta pahala yang besar di akhirat. Saya
mendengar Rasululalh saw. bersabda, "Abdurrahman bin Auf masuk surga
dengan merangkak (karena surga sudah dekat sekali kepadanya)."

Sebelum menghentikan iring-iringan unta, seorang pembawa berita
mengatakan kepada Abdurrahman bin Auf berita gembira yang disampiakan
Aisyah, bahwa Abdurrahman bin Auf masuk surga. Serentak mendengar berita
itu, bagaikan terbang ia menemuai ibu Aisyah. Katanya, "Wahai Ibu,
apakah Ibu mendengar sendiri ucapan itu diucapkan Rasulullah?"

Jawab Aisyah, "Ya, saya mendengar sendiri."

Abdurrahman melonjak kegirangan. Katanya, "Seandainya aku sanggup, aku
akan memasukinya sambil berjalan. Sudilah ibu menyaksikan, kafilah ini
dengan seluruh kendaraan dan muatannya, kuserahkan untuk jihad
fisabilillah.

Sejak berita yang membahagiakan itu, Abdurrahman pasti masuk surga, maka
semangatnya semakin memuncak mengorbankan kekayaannya di jalan Allah.
Hartanya dinafkahkannya dengan kedua belah tangan, baik secara
sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, sehingga mencapai 40.000 dirham
perak. Kemudian menyusul pula 40.000 dinar emas. Sesudah itu dia
bersedekah lagi 200 uqiyah emas. Lalu diserahkannya pula 500 ekor kuda
kepada para pejuang. Sesudah itu 1500 ekor unta untuk pejuang-pejuang
lainnya dan tatkala dia hampir meninggal dunia, dimerdekakannya sejumlah
besar budak-budak yang dimilikinya. Kemudian diwasiatkannya supaya
memberikan 400 dinar emas kepada masing-masing bekas pejuang Perang
Badar. Mereka berjumlah seratus orang, dan semua mengambil bagiannya
masing-masing. Dia berwasiat pula supaya memberikan hartanya yang paling
mulia untuk para ibu-ibu orang mukmin, sehingga ibu Aisyah sering
mendoakannya, "Semoga Allah memberikannya minum dengan minuman dari
telaga salsabil."

Di samping itu, dia meningggalkan warisan pula untuk ahli warisnya
sejumlah harta yang hampir tidak terhitung banyaknya. Dia meninggalkan
kira-kira 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3000 ekor kambing, dia beristri
empat orang. Masing-masing mendapatkan pembagian khusus 80.000, di
samping itu masih ada peninggalannya berupa emas dan perak, yang kalau
dia bagi-bagikan kepada ahli warinsnya dengan mengampak, maka
potongan-potongannya cukup menjadikan seorang ahli warisnya manjadi kaya
raya.

Begitulah karunia Allah SWT kepada Abdurrahman berkat doa Rasulullah
kepadanya semoga Allah memberkatinya dan hartanya.

Walaupun begitu kaya rayanya, harta kekayaan itu seluruhnya tidak
mempengaruhi jiwanya yang penuh iman dan takwa. Apabila ia berada di
tengah-tengah budaknya, orang tidak dapat membedakan di antara mereka,
mana yang majikan dan mana yang budak.

Pada suatu hari dihidangkan orang kepadanya makanan, padahal dia puasa.
Dia menengok makanan itu seraya berkata, "Mushab bin Umair tewas di
medan juang. Dia lebih baik daripada saya, waktu dikafani, jika
kepalanya ditutup, maka terbuka kainnya. Kemudian Allah membentangkan
dunia ini bagi kita seluas-luasnya. Sesungguhnya saya sangat takut
kalau-kalau pahala untuk kita disegerakan Allah memberikannya kepada
kita (di dunia ini)."

Sesudah berkata begitu, dia mengangis tersedu-sesudu, sehingga nafsu
makannya jadi hilang.

Berkatalah Abdurrahman bin Auf dengan ribuan karunia dan kebahagiaan
yang diberikan Allah kepadanya. Rasulullah saw. yang ucapannya selalu
terbukti benar telah memberinya kabar gembira dengan surga jannatun
na'im.

Telah turut menghantarkan jenazahnya ke tempatnya terakhir di dunia,
antara lain sahabat yang mulia Sa'ad bin Abi Waqqash. Pada salat
jenazahnya turut pula, antara lain, Dzun Nurain, Utsman bin Affan. Kata
sambutan saat pemakaman, Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Dalam sambutannya antara lain Ali berkata, "Anda telah mendapatkan kasih
sayang, dan Anda berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah
senantiasa merahmati Anda. Amin!"

Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah, oleh Abdurrahman
Ra'fat Basya
(http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&file=article&sid=426)

Wahyu Andika

Jumlah posting : 15
Join date : 23.01.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: Abdurrahman bin Auf

Post  Admin on Sun Feb 07, 2010 10:36 pm

Syukron y Akh Smile
Semoga menjadi teladan bagi kita semua...

Admin
Admin

Jumlah posting : 29
Join date : 23.01.10
Age : 27
Lokasi : Semarang

Lihat profil user http://iic-undip.forumotion.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik