fenomena akhwat melamar ikhwan!!!

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

fenomena akhwat melamar ikhwan!!!

Post  bunda dwee on Tue Feb 09, 2010 2:04 am

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah..akhirnya bisa berkumpul dan bergabung dimedia dan sarana dakwah ini.^_^....kali ini akan membawakan kumpulan artikel-artikel yang memuat suatu fenomena yang belakangan ini (bisa jadi)menjadi bahan perbincangan dikalangan para ikhwah. Artikel ini didapat setelah membaca catatan teman disalah satu situs jejaring sosial.Yaitu fenomena Akhwat(perempuan) menawarkan diri(melamar) untuk dinikahi oleh seorang ikhwan(laki-laki). Mungkin di antara saudara-saudaraku sekalian masih ada yang bingung menyikapi masalah ini, mungkin ada diantara kita ngak sempat bertanya ataupun bingung bertanya kepada siapa. Mari kita bahas sama-sama...
Bismillahirrahmanirrahiim…

Fenomena Akhwat melamar Ikhwan
"Tiada kehinaan bagi yang memulai kebaikan. Laki-laki maupun perempuan punya hak yang sama dalam hal melamar."

Selama ini dipopulerkan teori bahwa laki-lakilah yang berada dalam posisi aktif dalam hal melamar, sementara perempuan dalam posisi pasif atau menunggu lamaran. Tapi kenyataannya tidak bisa dipukul rata, karena banyak juga laki-laki yang pemalu berat. Hatinya perlu diketuk agar sadar bahwa sesungguhnya ada yang sedang mendamba cintanya.

Pada kondisi tertentu sejumlah pria sibuk dengan agenda karier, jihad, dakwah, pendidikan, dan lainnya. Ambilah contoh pria yang larut menuntut ilmu hingga sampai ke puncak teringgi dunia akademis. Sayang seribu kali sayang, dia lupa mengurus masa depan cinta. Pria yang begini neh akrab dengan sebutan PKI ( Perjaka Korban Ilmu) ~hehe.. jangan padhe marah yaa ikhwani~

Perbedaan status, juga merupakan salah satu faktor yang membuat laki-laki segan pada gadis yang lebih terhormat.Muhammad SAW adalah pegawai yang memasarkan dagangan Khadijah. Ada perbedaan status yang jelas, sehingga wajar kiranya sinyal itu selayaknya datang dari Khadijah.

Faktor-faktor budaya juga amat mempengaruhi. Santri miskin dari kalangan rakyat jelata akan berat mengutarakan niat suci terlebih dahulu pada putri kyai yang amat disegani.

Pria dilahirkan untuk menaklukkan dunia, sedang wanita tercipta untuk menaklukkan hati laki-laki. Dengan rumus ini bisa dimaklumi bila sebagian pria terlupa agenda nikah demi perjuangan idealismenya. Bagi mereka, kebanggaan tertinggi saat melakukan hal yang hebat bagi dunia. Sementara wanita bisa memenangkan laki-laki idamannya merupakan anugerah terindahnya.

Wanita yang menyatakan cinta pada pria shaleh untuk menikah di jalan Allah, bukanlah perbuatan yang tercela. Ini lebih baik daripada harapan itu disimpan. Yang hanya membikin sakit karena harapan yang tidak jelas.

Menyampaikannya hanya butuh waktu semenit dua menit. Tapi untuk mengungkapkan rahasia hati luar biasa beratnya, sangat dibutuhkan kekuatan lahir batin. Asalkan sudah selesai disampaikan, maka berton-ton beban di hati hilang melayang. Selanjutnya tinggal menguatkan mental untuk menerima segala hasil dari buah usaha Qta.

Apapun hasilnya, perempuan itu akan memperoleh kepastian hitam atau putih. Hidupnya tidak lagi dirajam gelisah tanpa arah. Jika di terima Alhamdulillah, maka bersemilah bunga cinta di pernikahan yang halal. Bila belum mendapat sambutan terbuka, maka jangan patah hati. Ucapkanlah Allahu akbar!!! penolakan menambah kedewasaan jiwa menerima kenyataan hidup. Dan insya Allah akan datang jodoh yang lebih baik.

Sebenarnya tak ada aib yang patut dikhawatirkan. Syaratnya, proposal menikah disampaikan pada laki-laki sholeh. Jika dia pria baik, maka akan menerima dengan baik atau menolak dengan baik pula. Sehingga, harkat dan martabat perempuan tetap terpelihara.

Pilihannya lumayan unik: *pertama, menyampaikan isi hati sekaligus menguatkan mental untuk siap menghadapi resiko singkat. *Kedua, memendam dan menderita batin berkepanjangan hingga menjadi sesal tiada akhir.

Maka, keberanian menjadi sangat penting demi mendapatkan posisi kepastian. Khadijah adalah salah satu dari sedikit perempuan yang punya nyali meminang pria. Keberanian itu muncul dan kuat setelah berakar pada keyakinan.

Sebenarnya masih banyak proposal cinta yang datang dari pihak perempuan. Termasuk didalamnya menawarkan puteri atau saudara perempuan pada pria yang sholeh. Sikap proaktif tersebut merupakan langkah terpuji dan bertanggung jawab terhadap keturunan.

Imam Bukhari dalam kitab Shahih-nya mengumpulkan pada satu bab khusus hadits mengenai orangtua yang menawarkan puterinya agar dinikahi laki-laki sholeh. Seorang wali diperbolehkan bahkan disunahkan melakukan hal demikian. Bahkan ada satu bab yang mencantumkan wanita-wanita yang minta dinikahi oleh laki-laki sholeh.

Kalau orangnya berkualitas, mengapa tidak proaktif mengutarakan kejujuran hati. Jika berat menyatakan secara langsung, bisa lewat perantara ; orang yang lebih tua, saudara, sahabat dan lain-lain. Bisa pula minta bantuan ayah-bunda, teman setia, atau orang terpercaya lainnya. Bisa juga melalui perantara; sepucuk surat, telepon langsung ke dia, atau dgn cara lain. Jika bernyali, silakan menyampaikan sendiri. Berani mencoba?

Bolehkah Akhwat Melamar Ikhwan?

Tsabit al Bunnani berkata, “Aku berada di sisi Anas, dan di sebelahnya ada anak perempuannya. Anas berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah SAW. Menawarkan dirinya seraya berkata, “Wahai Rasulullah apakah engkau berhasrat kepadaku? (dan di dalam satu riwayat(1), wanita itu berkata, “wahai Rasulullah, aku datang hendak memberikan diriku padamu). Maka putri Anas berkata, “Betapa sedikitnya perasaan malunya, idih… idiih”. Anas berkata, “Dia lebih baik dari pada engkau, dia menginginkan Nabi SAW. Lalu menawarkan dirinya kepada beliau. (HR Bukhari)(2)
Bukhari membuat hadits ini di dalam bab “wanita menawarkan dirinya kepada laki-laki yang saleh”. Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Diantara kejelian Bukhari ialah bahwa ketika beliau mengetahui keistimewaan wanita yang menghibahkan dirinya kepada laki-laki tanpa mahar, maka ia meng-istimbat hukum dari hadits ini mengenai sesuatu yang tidak khusus, yaitu diperbolehkan baginya berbuat begitu. Dan jika si laki-laki menyukainya, maka bolehlah ia mengawininya” .(3)
Dan Ibnu Daqiqil ‘Id berkata, “Dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan diperbolehkan wanita menawarkan dirinya kepada orang yang diharapkan berkahnya” .(4)
Di dalam syarahnya, Ibnu Hajar menambahkan penjelasan terhadap cara peminangan ini, katanya, “Dan di dalam hadits ini terdapat beberapa faedah antara lain bahwa orang yang ingin kawin dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya itu tidak tercela, karena mungkin saja keinginan tersebut akan mendapatkan sambutan yang positif, kecuali jika menurut adat yang berlaku yang demikian itu pasti ditolak, seperti seorang rakyat jelata hendak meminang putri raja atau saudara perempuannya. Dan seorang wanita yang menginginkan kawin dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukannya dari pada dirinya juga tidak tercela, lebih-lebih jika dengan tujuan yang benar dan maksud yang baik, mungkin karena kelebihan agama laki-laki yang hendak dilamar, atau karena suatu keinginan yang apabila didiamkan saja akan menyebabkannya terjatuh ke dalam hal-hal yang terlarang” .(5)
Sebuah cerita bagus dikemukakan oleh salah seorang teman dari Al Jazair, bahwa ketika ia berkunjung ke Mauritania, ada seorang wanita yang datang kepadanya menawarkan diri untuk kawin dengannya. Ketika dia merasa terkejut dan heran, maka wanita itu bertanya, “Apakah aku mengajak anda untuk berbuat yang haram? Aku hanya mengajak anda untuk kawin sesuai dengan sunnah Allah dan RasulNya…”. Maka berangkatlah kami ke qadhi (pengadilan), dan terjadilah akad nikah dengan dihadiri dua orang saksi.

(isi tulisan ini berasal dari buku “Kebebasan Wanita”, jilid ke 3, karya Abdul Halim Abu Syuqqah, terbitan Gema Insani Press, 1999, Jakarta)

Dilamar Akhwat
Usaha mencari jodoh memang harus dilakukan sampai akhirnya bertemu dengan pendamping hidup yang tepat. Kalau urusan Ikhwan gagal lagi, maju lagi itu biasa. Biasanya aku akan mengatakan --Anda belum beruntung coba lagi-- dan ditambah embel-embel bahwa Allah masih menyimpan pasangannya hingga waktunya tiba pasti Allah akan menunjukkan jalan menjemput sang bidadari.

Namun ada hal yang bergeser pola mencari pasangan hidup saat ini yang menurut salah satu temanku yang aktifis, yang ganteng dan yang sudah "mapan" tapi masih sendirian bahwa kondisi ini disebut era "reformasi" mencari pasangan hidup. Di mana menurut temanku itu akhwat-akhwat sekarang lebih berani dan lebih "agresif" menyatakan keinginannya untuk mencari pasangan hidup. Masih menurut dia bahwa seolah-olah ada gelombang SOS di kepala para akhwat lajangers itu bahwa mereka membutuhkan suami.

"Padahal para akhwat tersebut bukan dalam kategori usia rawan, maksudnya di atas 30 tahun. Bukan pula sudah selesai kuliah, atau ada kondisi yang sangat darurat sekali sehingga ia dengan berani menebar tawaran ke sana ke mari," jelasnya lagi dan aku hanya mangut-mangut saja mendengar penjelasannya

Tentu saja saya tidak sepenuhnya setuju dengan pendapat dia, namun kembali aku merenung saat ia mengutarakan bahwa ia dan beberapa ikhwan dilamar akhwat dengan berbagai cara. Mulai dari surat kaleng yang isinya mempertanyakan usia si Ikhwan yang sudah matang kok masih asyik menjomblo. Belum lagi via sms yang secara langsung menawarkan diri kepada Ikhwan tersebut. Atau melalui orang ketiga menanyakan kesiapan si Ikhwan.

"Memang tidak ada salahnya jika perempuan menawarkan dirinya terlebih dahulu kepada seorang pria untuk dijadikan istri. Kisah Khadijah dan Rasululullah sering kali dijadikan sebagai rujukan. Namun seringkali si Akhwat tidak siap terhadap reaksi yang tidak diharapkan akibat terlebih dahulu 'menembak' calon suami," tambahnya lagi.

"Nggak siap ditolak gimana?" tanyaku

"Si akhwat tidak terima karena katanya ia telah mengumpulkan energi untuk berani melamar saya," ujarnya muram.

"Ah, itu kan kasus saja dan bukan kejadian umum," belaku dan melanjutkan. "Afwan akhi antum sendiri belum menikah dan menolak tawaran itu karena apa?"

"Banyak hal yang harus disiapkan," belanya.

"Bisa jadi para akhwat itu gemes liat antum, yang usia sudah cukup, penghasilan oke, secara fisik sempurna, sholeh lagi tapi masih setia ngejomblo," kataku.

"Antum harusnya beruntung ada yang dengan ikhlas datang menawarkan diri berumah tangga. Nggak lihat tuh teman-teman antum harus jatuh bangun menemukan jodohnya," tambahku.

"Iya juga sih," jawabnya

"Lain kali kalau ada yang ngelamar, jangan ditolak ya," kataku akhirnya.

"Doakan ya," pintanya serius. Aku tidak begitu yakin, entahlah soalnya bukan sekali ini kami mendiskusikan hal yang sama walupun kali ini temanya ia yang dilamar seorang akhwat.
sumber : Akhina ifa nama penaku

menepis rasa malu

“sebenarnya seorang akhwat mendahului ikhwan dalam bertaaruf sah2 saja. Hanya saja budaya timur ini yg membuat kita salah persepsi tentang hal itu.
Rasa malu memang harus dipertahankan dlam kepribadian seorang muslim,bahkan malu itupun sebagian dari iman bukan.!Tapi yg paling penting adalah bisa menempatkan rasa malu itu sendiri.Tidaklah seorang muslim yg tidak dapat berlaku proporsional.Semua orang muslim, harus dapat menempatkan sesuatu dgn benar! Karena jika kita tidak menempatkan sesuatu dgn benar,maka kita disebut dholim.
Lalu apakah akhwat yg mendahului ikhwan bertaaruf itu tdk punya rasa malu? Mgkn kita sering mendengar dan membaca tentang riwayat ibunda kita,Khadijah! Seorang manusia mulia,yang menikahi manusia paling mulia juga. Mungkin kita berfikir bahwa Siti khadijah adalah seorang wanita mulia,dan kita tidak setara dengan beliau.Maka kita tidak boleh meniru beliau. Atau kita mengganggap apa yg dinikahi oleh Siti Khadijah adalah seorang yg sangat mulia. Sehingga kita memakluminya. Sedangkan sekarang tidak ada lagi ikhwan yg paling sempurna. Maka sudah tertutup pintu wanita utk mengkhitbah duluan. Ingatlah, tidak ada seorangpun yg menyamai Rasulullah. Bahkan jin sekalipun. Lalu, apakah salah jika seorang akhwat “menembak “ duluan! Sebuah pertanyaan besar, mungkin!

Tetapi pada dasarnya,Allah memberikan derajat yg sama, kepada seluruh hambanya. Baik wanita maupun pria. Tidak ada perbedaan derajatnya.yang membedakan hanyalah, Iman dan Ketaqwaannya. Lalu, apa hubungannya dengan akhwat "nembak"duluan? Yaitu, akhwat sah2 saja menembak ikhwan lebih dulu, dan sudah ada beberapa contoh selain siti Khadijah.Tidaklah wanita lebih rendah derajatnya, jika akhwat itu "menembak" ikhwan duluan.Tetapi kesiapan seorang akhwat untuk menembak ikhwan duluan,haruslah sangat matang.disamping kesiapan akidahmu,juga harus dikuatkan pada sisi mentalnya. Dan seandainya ikhwan tidak menerima t"embakan" akhwat,maka harus diingat bahwa niat mengkhitbah hanya karena ALLAH. Bukan karena siapa2.JAdi meskipun ikhwan tidak menerima akhwat tetap bisa berlapang dada.Karena niatnya hanya untuk ALLAH.
Ya, meskipun kita tahu bahwa hati seorang wanita sangatlah sensitif utk masalah yg satu ini. Tetapi minimal, rasa malu itu haruslah ditempatkan pada tempatnya! Akhwat boleh malu,misalkan pinangannya tidak diterima oleh ikhwan. Tetapi sesungguhnya hal itu tidaklah memalukan. Atau bahkan merendahkan derajat akhwat itu sendiri. Jadi, derajat wanita tidak akan pernah luntur,meskipun "tembakan"nya meleset.
Malu boleh, asal tahu penempatan malu itu.Ada sebuah contoh dari seorang shahabiah;dinukilkan dari hadist. Seorang wanita datang kepada Rasulullah, shahabiah itu menghibahkan dirinya untuk dinikahi Rasulullah. Tetapi apa yg dilakukan Rasulullah.?Rasulullah hanya terdiam,tidak berkata apapun sampai ketiga kalinya.lalu tiba2 seorang pria berkata kepada Rasulullah “Wahai Rasulullah nikahkanlah aku dengannya!”
Rasulullah mengatakan”Apa engkau punya sesuatu?”lalu jawab pria itu “aku tidak memiliki apapun Ya Rasulullah!” Lalu Rasulullah bertanya”Apa engkau hafal salah satu surat dalam Al-Quran?” lalu pria itupun menjawab “aku hafal ini dan itu!” lalu Rasulullah mengatakan, pergilah..karena aku telah menikahkanmu denganya,dengan mahar surat Alquran yg engkau hafal!” apakah wanita itu menjadi rendah dgn tdk dinikahi oleh RAsulullah? Ataukah wanita itu rendah karena telah ditolak RAsulullah? Atau akhwat itu rendah karena telah dinikahi oleh orang yg bukan Rasulullah?” Apalagi dinikahi dengan mahar yg hanya hafalan Alquran!”
Apakah wanita itu menjadi hina?Tidak!! shabiah itu tetaplah seorang shabiah.seseorang yg derajatnya tdk lebih rendah daripada shabiah2 lainnya! Jadi yg terpenting adalah rasa malu itu ditempatkan dgn sebenar2nya tempat malu itu sendiri. Jika kita telah melakukan kesalahan pada syaria’t islam! Baru rasa malu itu timbul. Jika kita melakukan dosa2 baru rasa malu dan derajat yg rendah itu boleh muncul. Tetapi jika kita tidak melakukan perbuatan yg melanggar syariat,Maka sesungguhnya kita tidak perlu merasa malu.Karena itu memang perbuatan yg tidak memalukan.!!
Hanya karena adat daerah,yg membuat rasa malu kita muncul.dan persoalan2 yg dianggap tabu dalam adat kita. MAka kita sering terkecoh dengan rasa malu itu sendiri. Jadi, jika sebuah perkara yg pada dasarnya,tidak dilarang oleh agama, maka seharusnya kita tidak usah memperdebatkan atau mencari2 kesalahan pada hal2 itu! Jadi sungguh besar memang manfaat rasa malu itu sendiri, sampai2 dalam agama islam malu merupakan sebagian dari keimanan. Malu, merupakan hal yg harus dimiliki setiap umat muslim. Dan seorang muslim harus bisa menempatkan rasa malunya.tidaklah setiap muslim mengumbar rasa malu itu,hingga menjadi malu2in.Atau tidaklah seorang muslim menyimpan terlalu dalam rasa malu, hingga dia tidak mengetahui tempat dimana menyimpan malunya. Maka dari itu, setiap muslim telah diajarkan oleh Allah, dengan memiliki sifat tawadzun. Dengan begitu kita akan dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dan menempatkan sesuatu dgn tempat yg benar, bukan asal2an dalam menempatkan.
Apakah kita siap malu??
Ataukah kita siap sakit hati,?
Alhamdulillahirabbila'lamiin.
WAssalammualaikum.
Sumber: novel menggugat akhwat dan ikhwan

bunda dwee

Jumlah posting : 2
Join date : 08.02.10
Age : 30
Lokasi : jakarta

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: fenomena akhwat melamar ikhwan!!!

Post  birulaut on Tue Feb 09, 2010 8:33 am

fiuuuuh...panjangnya tulisan ini bikin mata ku pegel gara2 ngeliat layar trus...
pembahasan yang bagus...lucu jg sih kalo akhwat ngelamar ikhwan tapi kok rasanya aneh ya??
mungkin faktor budaya di indonesia kali ya? atau lebih tepatnya faktor malu dan gengsi para akhwat?
tp klo buat saya sih...mikir 10000X kali mau ngelamar ikhwan...xixixi... lol!
hmmm..sayang novel ini belum saya habiskan untk dikonsumsi..alasanya sama,krn berupa e-book, yg kalau dibaca bikin pegel mata...thx mb dwee postinganya..
Smile

birulaut

Jumlah posting : 10
Join date : 29.01.10
Age : 27
Lokasi : jakarta-semarang

Lihat profil user http://www.mutiamanarisa.wordpress.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik