SOSIALISASI PROGRAM ECO- PESANTREN DAN PEMBENTUKAN KADER LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN CLUSTER SULAWESI SELATAN

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

SOSIALISASI PROGRAM ECO- PESANTREN DAN PEMBENTUKAN KADER LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN CLUSTER SULAWESI SELATAN

Post  Wahyu Andika on Mon Feb 01, 2010 8:34 pm

Mary Evlyn Tucker serorang guru besar agama dari Bucknel University mengatakan “Sains dan teknologi memang diperlukan, tetapi itu saja tidak cukup, Kita memerlukan agama untuk terlibat dalam mencari solusi keluar dari krisis lingkungan, mengingat gejala yang dilakukan manusia terhadap alam, maka kita tiba pada fase kepunahan keenam, yaitu manusia berperan dalam ikut menghancurkan dan mengubur peradabannya di planet bumi dengan kekuasaan dan arogansi yang mereka lakukan, Umat manusia dan peradabannya, merupakan suatu yang terancam punah pula”. Menurutnya agama mempunyai lima resep dasar untuk menyelamatkan lingkungan (5 R) yakni : (1) Referensi atau keyakinan yang dapat diperoleh dari teks (kitab-kitab suci) dan kepercayaan yang mereka miliki masing-masing; (2) Respect, penghargaan kepada semua makhluk hidup yang diajarkan oleh agama sebagai makhluk Tuhan; (3) Restrain, kemampuan untuk mengelola dan mengontrol sesuatu supaya penggunaannya tidak mubazir; (4) Redistribution, kemampuan untuk menyebarkan kekayaan, kegembiraan dan kebersamaan melalui langkah dermawan, misalnya zakat, infaq dalam Islam; (5) Responsibility, sikap bertanggungjawab dalam merawat kondisi lingkungan dan alam.

Pendapat tersebut sangat sejalan dengan konsep Eco-Pesantren yang dikembangkan KNLH, oleh karena itulah, melalui Program Eco-Pesantren ini, diharapkan selain dapat menggugah kesadaran umat muslim untuk lebih memahami dan peduli terhadap kondisi lingkungannya, juga dapat melakukan penggalian dan pengkajian secara komprehensif tentang konsep Islam yang berkaitan dengan lingkungan serta implementasi dan revitalisasinya. Sehingga menjadikan Pondok Pesantren sebagai pusat pembelajaran lingkungan bagi masyarakat. Demikian antara lain disampaikan oleh Ir Bambang Widyantoro dalam sambutan pembukaan Sosialisasi Program Eco-Pesantren dan Pembentukan Kader Peduli Lingkungan Pondok Pesantren Cluster Sulawesi Selatan Tahap II mewakili Deputi MENLH Bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat KNLH yang dihadiri oleh 90 orang Kyai dan Ustadz perwakilan dari 27 Pondok Pesantren se Sulawesi Selatan tersebut diselenggarakan tanggal 11 September 2009 bertempat di Hotel Singgasana, Makassar.

Kegiatan yang diselenggarakan atas kerja sama antara Kementerian Negara Lingkungan Hidup dengan Yayasan Wahdah Islamiyah ini, menghadirkan pemateri dari kalangan Birokrasi dan Praktisi Agama dan Lingkungan seperti : Kepala Bapedalda Provinsi Sulawesi Selatan, Kepala Kanwil Dep. Agama Sulawesi Selatan, Ir. Abdul Hafid Paronda, MT Direktur MASALIH Bekasi, H. Muh Ikhwan Abdul Jalil, LC wakil Ketua Yayasan Wahdah Islamiyah Makassar dan dari KNLH.

Pada kesempatan tersebut diinformasikan pula bahwa untuk kegiatan serupa (Tahap I) di Cluster Sulawesi Selatan terdapat 2 Pondok Pesantren Pemenang Lomba Proposal penyediaan sarana fisik pendukung Eco-Pesantren yakni Yayasan Ma’had Aly Al Wahdah untuk kategori Perpustakaan berbasis lingkungan dan Pondok Pesantren An Nahdlah untuk kategori Pengembangan layanan informasi lingkungan. Kepada peserta tahap II juga selain diberikan materi tersebut diatas diberikan kesempatan mengikuti lomba proposal penyediaan sarana fisik pendukung Eco-Pesantren dan copy VCD Cara Pengolahan Sampah Organik di Kebun Karinda.(ws).

Sumber:
Asdep Urusan Pemberdayaan Masyarakat perkotaan



Eco-Pesantren








Secara umum, istilah ekologi
mungkin sudah mulai banyak dikenal oleh khalayak umum. Meskipun
demikian, banyak yang juga mensejajarkan istilah ekologi ini dengan
lingkungan hidup. Sepengetahuan saya, ekologi tidak hanya sekedar
lingkungan hidup tetapi ekologi lebih dari itu. Ekologi melihat
bagaimana keseimbangan ekosistem itu terjadi. Ekosistem sedianya sudah
seimbang sejak dulu kala, bahkan sebelum ego manusia muncul dengan upaya
melakukan manipulasi terhadap lingkungan itu sendiri.

Nah,
pesantren yang selama ini banyak dikenal masyarakat sebagai salah satu
model pendidikan Islam yang berada dalam satu teritori dengan pucuk
pimpinan tertinggi pada Kyai. Santri, Ustadz dan Kyai menjadi komponen
pengisi kehidupan pesantren secara umum banyak ditemui. Lantas apa itu
eco-pesantren? Bagaimana kata-kata eco (ecology) bisa disandingkan
dengan kata pesantren di belakangnya? Apakah itu bukan bentuk dari
budaya latah yang selama ini banyak menghinggap masyarakat kita?

Saya
sendiri melihat bahwa eco-pesantren merupakan kata yang sangat tepat
yang menggambarkan bagaimana pesantren berperan dalam banyak hal. Sebut
saja penghargaan yang diperoleh Pondok Pesantren Pabelan, Pondok
Pesantren An Nuqayah Guluk-Guluk, dan Pesantren Cipasung yang pada
dasawarsa 80-an yang mendapatkan Kalpataru sebagai apresiasi pemerintah
atas peran mereka dalam melakukan penghijauan dan mempertahankan
kelangsungan lingkungan hidup.

Pesantren tentu tidak bisa
dilepaskan dari nilai dan tradisi keislaman. Begitu mulianya tradisi ini
sehingga menjadi panduan hidup yang dijalani oleh seluruh komponen
didalam pesantren. Sebut saja, beberapa Pesantren di Jakarta meskipun
didalamnya tumbuh bangunan yang menjulang, tetapi keasrian dan kearifan
lingkungan tetap terjaga. Pola kehidupan yang terbangun didalamnya juga
dirasa sangat menghargai alam.

Disaat sekolah konvensional banyak
mengajarkan bagaimana muridnya menghargai lingkungan, pesantren melalui
kata sakti sang Kyai sudah mengajarkan bahwa kebersihan dan penghargaan
lingkungan menjadi salah satu bagian dari keimanan. Ini berarti bahwa
bagi siapapun yang tidak menghargai lingkungan bahkan sampai merusaknya
menandakan lemahnya keimanan mereka. Sebaliknya, semakin terjaganya
ekosistem menggambarkan kuatnya iman mereka, minimal dengan upaya ini
kesadaran bahwa lingkungan dan manusia menjadi satu kesatuan.

Proses
belajar yang banyak dilakukan pesantrenpun tidak pernah terlepas dari
alam. sejak dahulu, santri sudah dibiasakan menerima proses belajar
mengajar dengan kondisi yang tidak pernah lepas dari alam bebas.
Sebagian kecil saja proses belajar terjadi di dalam kelas sedangkan
sisanya banyak mendorong interaksi dengan alam. Banyak juga pesantren
yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi keseharian mereka,
padahal disisi lain banyak masyarakat berlomba mengkoleksi kendaraan
yang menggunakan bahan bakar.

Maka, pantaslah eco-pesantren
menjadi padanan kata dari apa yang selama ini mereka lakukan. Tetapi,
penulis beranggapan bahwa sejatinya sebelum istilah itu muncul,
pesantren sudah melakukan gerakan-gerakan ekologi yang jauh sebelum
aktivis mendengungkan isu ini. Ekologi sudah sebegitu melekat dalam
keseharian kehidupan pesantren sehingga gerakan yang terjadi mampu
mempengaruhi masyarakat sekitarnya.

Sudah saatnya kita melihat
lebih mendalam budaya kita sendiri, budaya dan tradisi yang selama ini
kita anggap pinggiran dan tidak pernah dilirik sekalipun. Selama ini
kita silau dengan budaya kebarat-baratan yang ternyata berpotensi dalam
merusak lingkungan. Kalau mau jujur, sesungguhnya model seperti ini
lebih maju dua atau tiga langkah dari upaya MNC dalam menjaga lingkungan
sebagai dalih partisipasinya setelah mengeksploitasi habis-habisan
sumber daya alam dan lingkungan.

sumber:http://khitam.blogspot.com/2008/02/eco-pesantren.html

Wahyu Andika

Jumlah posting : 15
Join date : 23.01.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Re: SOSIALISASI PROGRAM ECO- PESANTREN DAN PEMBENTUKAN KADER LINGKUNGAN PONDOK PESANTREN CLUSTER SULAWESI SELATAN

Post  Wahyu Andika on Mon Feb 01, 2010 8:37 pm

Bisa kan, IIC buat ECO-CAMPUS?

Wahyu Andika

Jumlah posting : 15
Join date : 23.01.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik