Cinta karena Allah SWT, Pilar Kekuatan Jamaah Dakwah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Cinta karena Allah SWT, Pilar Kekuatan Jamaah Dakwah

Post  Wahyu Andika on Wed Feb 03, 2010 10:25 am

Taujih : Ust. Hasan. B (Dosen Mahad Al Hikmah)

Alhamdulillah wa shalatu wa salamu ala Rasulillah wa alaa aalihi wa shahbihi wa man
waa laah. Wa ba’du.

Saya sangat senang bertemu dengan antum sebagai tokoh dakwah, yang
memimpin aktifitas pembinaan, dan merupakan ujung tombak pelaksanaan tarbiyah, yang
mengkader dan membentuk karakter seorang Muslim. Apa yang antum lakukan adalah
asset besar dalam kebangkitan Islam di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Apa yang
antum lakukan adalah sarana paling efektif untuk merealisir tujuan dakwah kita dalam
membangun umat ini. Perlu antum ketahui, bahwa perang sejati yang kita hadapi hari ini
medannya adalah jiwa. Dan karenanya, gerak yang kita lakukan adalah diawali dengan
membentuk dan membina pribadi seseorang. Yang kita hadapi adalah, bagaimana kita
bisa mencetak kader, di samping banyak menghadapi ragam problematika. Sementara
kita tidak mungkin bisa menghadapi permasalahan besar itu, tanpa kita berhasil
membentuk karakter Islam dari orang-orang yang kita bina. Sebab itulah, medan pertama
dalam kebangkitan umat yang harus kita tempuh adalah medan pembinaan, baik secara
akidah, akhlak, pemikiran, ruhani, fisik, ekonomi, seni, agar kelak muncul orang-orang
yang mampu menghadapi tantangan besar yang dihadapi umat Islam.

Ikhwah sekalian,
Jadi, medan utama kita dalam kebangkitan ini adalah kaderisasi. Dan ruang
lingkupnya adalah bagaimana kita membentuk orang agar bisa menanggung misi
kebangkitan ini secara komprehensif. Kebangkitan ini hanya bisa dilakukan dengan suatu
barisan yang utuh, terdiri dari orang-orang yang saling menguatkan, yang percaya dengan
pemimpinnya, barisan yang anti terhadap perpecahan, barisan yang mampu menghadapi
tantangan, barisan yang mampu memimpin umat Islam, dan terus melakukan perubahan
demi perubahan. Perubahan yang kita inginkan, yamg paling pertama adalah bagaimana
kita bisa memiliki shaff dengan karakter seperti itu. Dengan kata lain, shaff yang mampu
menghadapi setiap masalah dengan ruh ukhuwwah, rasa cinta, rasa persaudaraan, yang
tinggi. Di sinlah kita membutuhkan pemahaman tentang fiqh ukhuwwah.

Bisa saja dalam melewati ragam problematika di jalan ini, ragam proyek Islam
yang dilakukan, baik di bidang tarbiyah, politik, ekonomi, di manapun, akan
mempengaruhi beberapa sikap lupa terhadap masalah prinsip, masalah yang mendasar
terkait dengan keterikatan seorang anggota dengan keterikatannya terhadap asasi, terkait
ikatannya dengan barisan dakwah. Tapi kita tetap membutuhkan barisan yang kuat,
artinya kuat karena ruh ukhuwwah. Ikatan ukhuwah yang terjalin di atas akal dan hati,
rasio dan emosi.. Bukan sekedar ikatan artifisial, bukan hanya keterikatan fisik atau
bahkan sekedar keanggotaan partai atau jamaah saja. Keterikatan kita dalam barisan ini,
sekali lagi adalah ikatan keimanan yang ada di atas akal dan hati kita.

Ikhwah rahimakumullah,
Persaudaraan dan ukhuwwah yang kita wujudkan dalam barisan ini, adalah
persaudaraan yang menembus ruang waktu hidup kita. Karena persaudaraan ini akan kita
bawa hingga ke akhirat. Dan karenanya, persaudaraan kita ini adalah persaudaraan karena
Allah swt. Bukan karena yang lainnya. Bangunan jamaah yang memiliki karakter
persaudaraan seperti inilah, yang akan mampu menghadapi serangan apapun dari luarnya.
Bangunan ukhuwwah yang kokoh, yang mampu menghadapi ragam tantangan apapun.

Tantangan yang akan kita hadapi, meskipun besar, akan menjadi ringan bila kita hadapi
dengan ukhuwwah. Justru tatkala kita memiliki ukhuwwah yang baik, sebuah tantangan
yang diarahkan kepada kita akan memperkuat kita sendiri. Sebagaimana virus tertentu
bisa diberikan dan memperkuat tubuh. Sebagaimana juga, bila tubuh kuat, maka tubuh
mampu menolak virus dari luar. Sedangkan bila tubuh ini lemah, apalagi ia mengalami
penyakit yang mengilangkan imunitas tubuh, maka penyakit dan virus yang sedikit
sekalipun akan bisa melumpuhkannya.

Sekali lagi, ikhwah sekalian. Kekuatan kita adalah karena ukhuwwah yang kita
miliki. Sebagaimana Imam Hasan Al Banna rahimahullah mengatakan, ”Asasu da’watina
al hubbu fillah wa tarahum.” Landasan dakwah kita adalah cinta karena Allah dan kasih
sayang. Cinta karena Allah adalah naungan tempat kita semua bernaung. Kata-kata al
hubbu fillah (cinta karena Allah) bukan sekedar kata-kata, bukan hanya ucapan, tidak
sekedar syiar simbol yang digaungkan oleh kita. Tapi cinta karena Allah, persaudaraan
karena Allah, merupakan tuntutan yang harus ditunaikan konsekwensinya. Siapapun yang
mengatakannya, harus tahu tuntutan konsekwensi kata-kata itu. Filosofi persaudaraan
karena Allah itu sesungguhnya merupakan ikatan yang sudah ada di langit sebelum kita
dipertemukan di bumi ini.

Ikhwah rahimakumullah,
Allah swt menyaksikan apa yang kita katakan, apa yang kita ucapkan. Bila ada
kata-kata yang keluar dari pernyataan kita, bila ada yang keluar dari mulut kita, Allah
menyaksikan apakah kita jujur atau tidak. Setiap segala sesuatu itu ada hakikatnya, dan
hakikat harus bisa diterjemahkan dalam kenyataan. Sayyid Quthb rahimahullah
mengatakan, “Al ukhuwah fillah, laa yadzuuquha illa man dzaaqaha.” Ukhuwwah di
jalan Allah, tak bisa dirasakan kenikmatannya kecuali orang yang telah merasakan
nikmatnya.

Rasulullah Muhammad saw, menjadikan Al Quran ini hidup dalam hati setiap
muslim. Dia mencetak bagaimana para sahabatnya hidup dalam suasana saling cinta
karena Allah swt. Mereka bila mengucapkan sesuatu, maka kalimat itu harus terwujud
dalam realitas. Lihatlah bagaimana para sahabat berinteraksi sesama mereka dengan
cinta dan ukhuwwah. Meskipun ada perselisihan di antara mereka, tapi perselisihan itu
tidak merusak kasih sayang yang ada di antara mereka.

Begitulah, Allah sudah menanamkan kasih sayang dalam jiwa mereka. Sehingga
sesungguhnya yang menjadi masalah bukan pada masalah yang diperselisihkan, tapi pada
kedengkian yang muncul dan ada dalam jiwa orang-orang yang berselisih itu. Sedangkan
di bawah naungan cinta, kita bukan tidak akan pernah berselisih, melainkan kita akan
mengerti bagaimana kita ketika berselisih, bagaimana jika kita berdiskusi, bagaimana jika
kita harus beradu argumentasi, dan sebagaimananya. Islam mengajarkan kita untuk
menjadikan cinta karena Allah yang mengikat dalam setiap perbuatan.

Sesungguhnya, sikap paling buruk adalah bila kita menguliti pakaian saudara kita.
Karena di sana kita berarti membuka dan membongkar aib saudara kita. Bahkan Allah
swt mengistilahkan orang yang mengeluarkan kata-kata menyakiti terhadap saudaranya,
dalam ghibah, seperti memakan bangkai saudaranya yang sudah mati. Istilah ”memakan
bangkai saudara yang sudah mati”, itu lebih menyakitkan dan lebih ganas ketimbang
memakan saudara yang masih hidup. Karena di saat saudara kita mati, dan tidak bisa
melakukan apa-apa, kita masih melakukan tindakan yang menyakitinya. Rasulullah saw
pun menyebutkan ada karakter jahiliyah dalam diri sahabatnya. Ketika salah seorang
sahabat memanggil Bilal bin Rabah dengan sebutan si anak budak hitam. Rasulullah saw
marah dan mengingatkan pelakunya dengan mengatakan, ”innaka umru'un fika
jahiliyyah” yang artinya engkau adalah seorang Muslim yang dalam dirimu masih ada
sisa-sisa jahiliyah.

Ukhuwwah karena Allah adalah kenikmatan yang hadir karena keimanan.
Ukhuwwah akan terhalang bila tanpa keimanan. Sama dengan hadits yang menceritakan
bahwa seorang mukmin tidak akan berzina, ketika dia beriman. Seorang mukmin tidak
akan meminum khamar dalam kondisi dia beriman. Demikian juga, seorang mukmin
takkan menyakiti saudaranya dan takkan menodai persaudaraannya sesama mukmin bila
dia beriman.

Seperti itulah ukhuwwah. Ketika seseorang telah bicara tentang keburukan
saudaranya, berarti keimanannya telah rusak. Dan berarti ia berdusta ketika kita
mengatakan, engkau adalah saudaraku di jalan Allah. Karena kata-kata itu harus ada
konsekwensinya. Mungkin saja karena kita tidak tahu apa arti ukhuwwah, apa fiqih
ukhuwwah. Padahal noda yang sedikit bisa merusak air yang banyak. Sebab nila setitik
rusak susu sebelanga. Kata-kata yang sedikit, bisa saja akibatnya sangat membahayakan
dan menghancurkan keseluruhan yang baik.

Ikhwah sekalian,
Sebagai Muslim, ketika ingin mengatakan sesuatu kita harus menghadirkan niat,
apakah Allah swt ridha dengan amal kita, dengan kata-kata kita, pekerjaan kita. Ini harus
dilakukan agar kita bisa mengontrol kata-kata yang kita keluarkan.
Sebagaimana ucapan seorang sahabat yang menyebutkan, ”Sejak aku baiat kepada
Rasulullah tak pernah keluar dari mulutku kecuali, setiap aku ingin bicara tertahan lebih
dahulu, dan aku pertimbangkan apa akibatnya.” Itulah yang terjadi dalam sejarah kaum
muslimin. Ketika ada orang-orang munafiqin yang memindahkan isu-isu negatif dengan
mulut mereka, Allah swt menyebutkan orang munafiqin itu menganggap apa yang
mereka katakan itu ringan saja. Padahal kata-kata mereka itu sangat berat dosanya di sisi
Allah swt.

Ketika kita ingin mengatakan satu kata, kita harus mengevaluasi kata itu apakah
perkataan itu membuat murka Allah, atau diridhai Allah. Bukankah tujuan kita dalam
hidup ini, adalah bagaimana supaya Allah ridha. Jika kita mendapat ridha Allah, berarti
kita menjadi orang yang menang. Apa artinya kita dalam barisan dakwah tapi Allah tidak
ridha dan berarti kita bukanlah orang yang menang. Ukhuwwah karena Allah tidak bisa
ditunjukkan sekedar kita menunjukkan kartu nama anggota partai atau jamaah tertentu.
Tapi harus dibuktikan dengan amal, diiringi keikhlasan, yang tidak menodai ukhuwwah
itu sendiri.

Ikhwah sekalian,
Ada penafsiran yang menarik tentang firman Allah swt, ”Law anfaqta maa fil
ardhi jami’an maa allafta bina qulubihim.. ” Jika engkau infaqkan semua yang ada di
bumi ini, takkan mampu mengikat hati manusia. Karena sesungguhnya, Allah swt
menanamkan dalam diri Rasulullah dan kaum mukminin, sehingga Allah lah yang
mengikat hati di antra mereka. Ikatan ini tidak bisa diwujudkan oleh para pakar, orang
pintar di zaman jahilihah, bagaimana bisa menghimpun hati orang orang Arab di zaman
itu.

Menghimpun hati tak bisa dilakukan kecuali oleh Allah swt. Karena Allah yang
telah meletakkan dunia dan seisinya dalam genggaman-Nya, lalu Dia-lah yang
menggabungkan hati dari makhluk-Nya itu ke seluruh kekuasaan-Nya. Tidak mungkin
hati orang disatukan dengan harta. Harta tidak mungkin menjadi simpati bagi hati, harta
hanya bisa untuk memperbanyak uang yang mungkin letaknya dalam kantung. Harta
tidak bisa mengikat hati ini, kecuali Allah swt saja.

Kecintaan dan kasih sayang antara orang mukmin, selain merupakan
karunia Allah swt, juga merupakan modal yang sangat penting sehingga Rasulullah
bisa memimpin mereka dalam misi dakwah. Andai tanpa cinta dalam hati sahabat,
mustahil orang-orang Arab bisa dipimpin untuk bisa ikut menyiarkan dakwah Islam.
Kecintaan dalam hati para anggota atau kader dakwah adalah adalah aset utama dalam
dakwah ini. Sebagaimana keberhasilan dakwah Rasulullah, sebab utamanya adalah
bagaimana kecintaan dan persaudaraan karena Allah yang ada di antara mereka. Kalau
hati sudah saling cinta, orang akan mudah dipimpin. Kalau hati saling benci,
pemimpin akan gagal, meskipun hartanya banyak dan skill manajemennya baik
sekalipun.

Orang bahkan tidak mau bila ditawari surga, bila cara menyampaikannya tidak
dengan rasa cinta. Ini adalah fitrah Allah yang tidak berubah. Karena itu, memimpin
manusia, itu punya kunci. Siapapun yang mempunyai kunci itu, bisa memimpin manusia,
tahu rahasianya, dan sekaligus tahu bagaimana memimpin orang tersebut. Allah
menjadikan hati yang lembut dan ukhuwwah antara sahabat sebagai sebab kemenangan
dakwah.

Ruh dan jiwa ini, sebagaimana dikatakan dalam Rasulullah saw, laksana pasukan
yang dikerahkan, ”al arwaahu junuddun mujannadah. maa ta’arafa minha italaf wa ma
tanafara minha ikhtalaf.” Ruh-ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang
saling kenal akan mudah akrab dan yang tidak dikenal akan cenderung saling menjauh“
(HR. Muslim). Ada sebuah kisah tentang seorang perempuan muhajirah yang memiliki
karakter suka mengeluarkan kata-kata lucu, menghibur. Perempuan ini ketika tiba di
Madinah bertemu dengan wanita yang sama karakternya, yakni suka melucu dan
menghibur. Di sanalah dia tinggal. Dia tidak mengenal orang itu, tapi jiwanya tergiring
untuk bertemu dengan orang yang seperti itu. Ketika mendengar hal itu, Aisyah ra
mengatakan, ”Benarlah kekasihku Rasulullah saw, ruh ruh itu seperti pasukan yang
dikerahkan... ”

Ikhwah sekalian,
Tiga hal yang menjadi buah dari ukhuwah adalah. Ukhuwwah ini adalah
bagian dari keimanan kita dan karena keimanan itu kita menjadi saling merekat.
Ukhuwwah adalah senjata qiyadah, dalam mencapai tujuan, dalam merealisasi
target. Ukhuwwah juga adalah senjata paling ampuh, untuk menghadapi tantangan
dan kesulitan.

Dalam perselisihan yang terjadi antara sahabat ra adalah perselisihan yang
memicu sikap saling bunuh di antara mereka, karena masalah ijtihad. Ketika kita
mengkaji masalah mereka, kita tidak lebih dominan melihat apa yang mereka
perselisihkan, tetapi harus bisa melihat bagaimana caranya mereka keluar dari
perselisihan itu, dan bagaimana perselisihan itu tidak merusak kasih sayang di antara
mereka. Kita harus melihat kendala apa yang muncul jika ada peristiwa yang kemudian
merusak ukhuwwah.

Saya ingin contohkan masalah yang dialami Ali bin Abi Thalib ra. Orang yang
sudah pasti kemusliman dan keimanannya. Sudah meyakinkan kapasitas ilmu, akal,
ruhani, ibadahnya. Tak ada juga yang meragukan keberanian dan kekuatannya. Akan
tetapi sebab musabab yang memunculkan perang shiffin antara kelompok Ali dan
Mu’awiyah dipicu oleh informasi dusta yang terus menerus disampaikan oleh kelompok
Syiah, sehingga pandangan Ali ra berubah. Syiah adalah kelompok yang mengaku cinta
ahlul bait, tapi sebenarnya mereka tidak mencintai seluruh ahlul bait. Ali ra telah
dipengaruhi oleh orang-orang syiah. Itu berarti, barisan pengikut Ali tidak lagi memiliki
kecintaan terhadap sesama orang beriman di antara mereka.Ali ra terus menerus
diprovokasi, dipancing dan dikatakan ”Ali adalah pemberani, tapi tak pandai berperang.”

Ikhwah sekalian,
Inti dari tema yang kita bicarakan ini, adalah untuk kalian dan kalian bawa kepada orangorang
yang kalian bina dan kalian pimpin. Kita harus bisa menyampaikan kepada mereka
tentang ukhuwwah ini, agar kita bisa menghaluskan yang kasar, dan kita bisa
menghilangkan kendala-kendala yang menghalangi jalan kita dalam menghadapi
tantangan besar. Kita harus menghadapinya dengan barisan yang saling cinta, yang kuat
karena Allah, cinta sejati, bukan sekedar kata kata.

Kita harus mengagungkan nikmat ukhuwah ini ini. Dzauq ukhuwwah (cita rasa
ukhuwah), akan menjadi sesuatu yang penting dan sangat dipelihara oleh orang yang
sudah merasakannya. Ukhuwwah yang lahir bukan karena satu pendapat, karena ada
orang yang menganggap bila ada orang yang beda pendapat denganmu maka dia bukan
saudaramu. Ini sangat keliru. Orang yang tidak merasakan dzauq ukhuwwah tidak akan
merasakan ukhuwwah itu penting. Tapi kalau yang merasakan dzauq ia akan berusaha
memelihara hubungan dengan saudaranya, tak akan menyakiti saudaranya walaupun satu
kata.

Peliharalah kalau kita sudah merasakan dzauq ukhuwah. Cari kalau kita belum
merasakan dzauq ukhuwwah. Kita cinta kpada Allah, cinta Rasulullah, cinta kaum
beriman dan wala kepada mereka. Kita tidak mencintai orang lain karena diri orang itu,
tapi kita cinta karena Allah swt. Cinta karena Allah, adalah cara yang paling penting agar
kita bisa mensukseskan dakwah ini. Imam Syahid jika bertemu dengan para Ikhwan
dalam berbagai pertemuan, kerap menampakkan bagaimana kekagumannya dengan
ukhuwwah yang ada di antara ikhwah. Ketika pimpinan melihat bagaimana para ikhwah
sangat tinggi ukhuwwahnya, ia mengungkapkan kekaguman itu, ”saya sangat bangga
dengan ruh yang bisa menghimpun ikhwan. Karena ukhuwwah ini tidak ada dalam
kelompok lain kecuali jamaah Ikhwan.” Imam Al Banna juga mengatakan, bahwa al akh
ash shadiq (al akh sejati), adalah orang yang melihat saudaranya, lebih utama dari
dirinya. Dirinya dihibahkan untuk berkhidmah pada saudaranya. Al Akh adalah orang
yang menanggung beban saudaranya. Seorang Ikhwan bisa saja berjalan bersama orang
lain dan keluar dari shaf, tapi ia takkan menemukan hal yang sama sebagaimana ia dapati
bersama ikhwan. Kita tidak mengatakan, orang yang keluar dari jamaah ini kafir, tapi ia
telah meninggalkan kebaikan besar.

Ketika dalam jamaah ini, seseorang akan merasa hidupnya bernilai, punya tujuan, punya agenda, punya teman teman yang bisa saling mendukung di jalan Allah, yang saling membela. Ia merasakan hidupnya penuh arti. Ketika Hasan bin Ali pernah ingin mengalah dan menyepakati perdamaian dengan Mu’awiyah, ia bersama 12 ribu pasukan yang siap berperang. Tapi kelompok Syiah tidakingin peperangan tidak terjadi. Mereka tidak ingin Hasan bin Ali mengalah. Ketika itulah Hasan bin Ali mengatakan, ”Apa yang kalian benci dalam berjamaah, lebih baik daripada apa yang kalian sukai dalam perpecahan. Karena Tangan Allah bersama jamaah. Perpecahan adalah saudara kufur, kesatuan adalah saudara keimanan.”

Ikhwah sekalian,
Sebelum bicara tentang sarana mewujudkan ukhuwwah, kita juga harus
menegaskan bagaimana peran pemimpin dalam menumbuhkan ukhuwwah ini. Kita
berqudwah pada Rasulullah saw, di segala hal. Kita tidak berbeda dengan cara
Rasulullah. Ketika kita katakan Ar Rasul qudwatuna, kita harus jujur dalam ungkapan ini.
Bagaimana cinta sahabat pada Rasulullah saw. Kita semua tahu apa dan bagaimana
kecintaan mereka. Sahabat sangat cinta pada pimpinan mereka Rasullullah saw, sangat
luar biasa.

Rasul bahkan pernah menguji kecintaan umar. ”Bagaimana kadar cintamu
padaku ya Umar?” Sebelum ini, kita sudah menegaskan bahwa cinta di antara anggota
akan menolong pimpinan dalam mencapai tujuan yang diinginkanya. Dan dalam hadits
ini, Rasulullah menguji kecintaan Umar bin Khattab ra. Umar mengatakan, ”Saya cinta
padamu tapi tidak lebih dari cinta pada diri saya.” Rasul memandang Umar dengan
pandangan nubuwwah, dan dikatakannya, ”Tidak ya Umar, cinta mu masih kurang....”
Perkataan itu sangat mempengaruhi Umar, hingga Umar kemudian mengatakan,
”Kecintaanku kepadamu, melebihi kecintaanku pada diriku sendiri.” Setelah itu, Rasul
mengatakan, ”Sekarang ya Umar, engkau telah menyempurnakan tingkatan keimanan”.

Ada tiga hal yang harus kita miliki, yakni menghargai, menghormati, dan
mempercayai pimpinan. Ketika Imam Al Banna berbicara tentang tsiqah dengan qiyadah,
ia menyampaikan bahwa qiyadah secara pribadi seharusnya memiliki karakter sebagai
ustadz dalam hal keilmuan, syaikh dalm hubungan keruhanian, bapak atau orang tua
dalam hubungan persaudaraan, dan pemimpin dalam hal organisasi. Kemudian Al Banna
mengatakan, bahwa hubungan antara pimpinan kepada anggota, dan sebaliknya, harus
dengan penghormatan, penghargaan, dan percaya sehingga tiga hal itu yang menjadi
rukun dalam keberhasilan dakwah ini. Tidak ada jamaah tanpa qiyadah. Ini harus menjadi
bekal dalam diri para ikhwah. Inilah yang diajarkan dalam Al Ikhwan Al Muslimun.
Kalian adalah orang yang bertanggung jawab dalam kaderisasi, misi kalian adalah sangat
penting. Kalian harus bisa memiliki sikap-sikap seperti ini.

Ikhwah sekalian,
Ada beberapa sarana mewujudkan ukhuwwah:
Pertama, lakukan segala sesuatu dengan penuh ikhlas.
Keikhlasan dalam kecintaan karena Allah. Cinta karena Allah, bukan karena yang
lain, bukan karena manfaat, bukan karena harta benda. Hal ini sudah panjang lebar
dijelaskan sebelum ini. Tapi saya ingin menjelaskan satu hal penting namun sering
dilupakan oleh para ikhwah dalam hal keikhlasan ini, yakni dalam hal membaca wirdu
rabithah. Setiap kita hafal wirid ini. Tapi apakah kita paham makna wird rabithah. Imam
Al Banna, menyampaikan semua yang dilakukannnya, adalah bagian dari manhaj yang
saling menyempurnakan. Wirid rabithah adalah wasilah terbesar dalam menumbuhkan
ukhuwwah fillah. Maka, sebaiknya kita lakukan dengan resapan makna dan perenungan
yang dalam.

Di awal catatannya tentang wirdu rabithah, Imam al Banna mengatakan, agar kita
menghadirkan wajah para ikhwan dari yang kita kenal, menghadirkan hubungan batin
dengan mereka, bahkan dengan menghadirkan ikhwan di dunia ini yang tidak kita kenal.
Kalau kita lakukan hal ini setiap hari, dengan ikhlash, perhatikanlah bagimana cinta ini
bisa terus berkembang dan tumbuh sampai kita bisa ada kebaikan pada jamaah dan
masyarakat, dan bagi kemanusiaan seluruhnya. Lakukan seluruhnya dengan ikhlash, amal
dilakukan hanya dengan keikhlasan.

Dalam hadits riwayat Bukhari, disebutkan ada seorang perempuan pezina yang
menolong memberi minum anjing yang kehausan, lalu kemudian ia masuk surga. Ibnu
Taimiyah rahimahullah mengatakan, ia masuk surga karena ia melakukannya, dengan
ikhlash dan iman. Itulah yang menyebabkannya masuk surga. Sahabat Rasulullah ada
yang meminum khamar, kemudian dicambuk, lalu minum lagi, dicambuk lagi, minum
lagi, dicambuk lagi. Seorang sahabat mengatakan, kamu terlaknat karena mengulangi
minum khamar. Tapi Rasulullah mengatakan, ”La tal’anhu innahu yuhibbullah wa
Rasulullah”. Jangan cerca dia karena sesungguhnya dia cinta kepada Allah dan
Rasulullah.

Lakukanlah amal dengan ikhlash, agar Allah memberkahi dan memberi pahala yang
berlebih. Inilah sarana paling baik dalam menanamkan ukhuwwah fillah. Bacalah doa
rabithah ini dengan ikhlash. Karena biasanya orang sudah melakukan rutinitas ibadah, ia
lupa dengan ruhnya, tak ada keikhlasannya. Sebagaimana ada banyak orang yang shalat,
tapi ia tetap melakukan kemaksiatan karena lupa dengan substansi dan keikhlasan dalam
melakukan shalat.

Imam Hasan Al Banna memisalkan perbedaan iman yang dimiliki para ikhwan
dengan yang lainnya adalah, iman yang dimiliki ikhwan adalah iman yang hidup yang
aktif dan sadar. Sedangkan keimanan orang lain banyak yang keimanannya tidur dan
pasif, sehingga perlu ada yang membangunkannya terlebih dahulu. .

Kedua, Tanashuh wa tawashi. Saling menasihati dan saling mewasiati. Itu sebabnya
para sahabat menutup majlisnya dengan membaca surat Al Ashr. Kita sering melakukan
itu tapi kita lupa inti artinya. Ini adalah janji antara ikhwah, untuk tawashau bil haq
tawashau bi shabr. Sabar untuk sedikitnya orang, banyaknya musuh, jalan yang panjang.
Ini adalah janji, bukan sekedar kata-kata. Nashihah, Musharahah (keterusterangan),
mukasyafah (blak-blakan) itu dengan syarat dilakukan dengan adabnya. Semua harus
dilakukan dengan etikanya. Baik antar pribadi apalagi dalam sebuah jaamah. Semuanya
punya etika, punya koridor, kita adalah jamaah kita punya saluran untuk melakukan
nashihah. Nasihat bukanlah kalimat yang disampaikan di sembarang tempat, di manamana.
Ingat, kalimat yang dikeluarkan itu sangat berbahaya. Para penyair
menggambarkan ketika kerajaan Bani Umayah hampir hancur dengan ungkapan ”Awal
hancurnya adalah kata-kata yang membakar.”

Seorang Ikhwah tidak bicara apapun yang dia pahami. Tapi pembicaraannya, harus
dengan cara yang benar, dengan memikirkan akibatnya. Ada kalimat yang bisa
mengakibatkan perang, ada perkataan yang bisa menyebabkan pembunuhan, ada yang
bisa menyebabkan kehancuran. Ikhwan punya aturan yang menjadikan setiap orang
dalam barisan kita bisa menyampaikan pandangannya, apapun yakni dalam usrah. Tapi
kita harus juga meyakini bahwa forum usrah adalah amanah. Tidak boleh diumbar keluar
pembicaran tentang kekurangan, keluar. Ini adalah keluarga kita, ini adalah masalah kita.
Ingat bahwa usrah ini adalah amanah.

Ketiga, tasamuh wa tarahum. Saling toleran, tetap saling kasih sayang
Ahmad bin Hambal, 90 persen kebaikan akhlak adalah dengan pura pura mengabaikan
informasi yang buruk. Kalau kita tidak bisa memberi udzur, kita cari udzur lain untuk
saudara kita. Jangan kehabisan udzur untuk saudara kita. Ini adalah manhaj Islam. Kita
juga harus mengerti bahwa jalan pikiran seseorang berbeda-beda. Karena itu, dalam
jamaah Ikhwan, menentukan pendapat mana yang harus didukung ada pada qiyadah.
Imam Al Banna sejak sejumlah Ikhwah berbaiat kepadanya sudah bertanya, ”Apakah
kalian siap mengalah dalam mengikuti masalah ijtihadiyah kepada para qiyadah?” Hak
pemimpin adalah menentukan mana dan siapa yang harus diikuti. Dalam majlis syuro
setiap orang bisa menyampaikan apa saja, bebas. Tapi kalau syuro sudah menetapkan
qarar tidak ada lagi hak pribadi untuk menyampaikan pendapat. Kita harus ridha
dengannya.

Keempat, memahami fiqhul ukhuwah. Sebagaimana dijelaskan.

Kelima, pahami fiqih khilaf.
Ada banyak perbedaan. Jika perbedaan dalam masalah fiqih, caranya adalah dengan
melihat mana yang paling kuat secara dalil menurut kita. Tapi ada khilaf yang sifatnya
duniawi, khilaf siyasi. Khilaf ini, seperti perselisihan yang terjadi di antara para sahabat,
setiap mereka berijtihad, mereka ingin menolong Islam dan yakin bahwa pendapat
mereka paling benar. Mereka pernah saling keras, tapi kemudian mereka menyesal, dan
diriwayatkan Aisyah menangis hingga basah hijabnya.

Keenam, dalami penguasaan fiqih awlawiyat marhalah. Siapa yang menentukan
kebijakan? Perselisihan yang terjadi, dalam sejarah dakwah Rasulullah saw ketika
perjanjian Hudaibhiyah adalah contoh paling baik bagi kita. Rasululllah sebagai
pimpinan memiliki pandangan yang sangat jauh, sedangkan anggotanya ketika itu ada
yang memiliki pandangannya pendek. Termasuk Umar bin Khattab. Umar bin Khattab ra,
memiliki pandangan tajam dalam berbagai pendapatnya, karena bersesuaian dengan ayat
Al Quran (lihat foot note).

Tapi ketika itu karena ditentang oleh Umar ra, Rasul mengatakan, ”Saya adalah
Rasulullah saw, Allah tidak akan menyia nyiakan sesuatu. Umar mendebat, bukankah
engkau katakan kita akan tawaf? Tapi bukan kah saya tidak tahun ini. Umar bertaubat.
Masalah ini wahai ikhwah memerlukan ilmu, dakwah ini adalah ilmu. Jika kita tidak
mempunyai ilmu, bisa jadi orang lain lebih jahil dari kalain. Naqib harus terus menerus
mengkaji ilmu. Agar bisa memberi, mengenyangkan. Jika pembekalan itu terhenti, kita
tidak bisa memberi.

Ketujuh, Irtiqa bi mustawal hiwar. Melihat memiliki seni yang baik dalam dialog.
Sebagaimana orang-orang shalih bila berdialog, berdiskusi, bahkan beradu argumen
mereka mengatakan, ”Tidaklah aku berdebat dengan seseorang kecuali aku ingin agar
kebenaran itu ada pada pihak orang tersebut. Dan aku berdoa agar Allah swt meluruskan
dan menajamkan pandangannya dalam masalah itu.” Imam Syafii juga terkenal dengan
prinsipnya, ”Ra’yi shawab yahtamil khata wa rayuhul khata’ yahtamil shawab.”
Pendapat saya benar tapi mungkin salah. Pendapat dia salah tapi mungkin juga benar.
Sikap taashub terhadap pendapat bukan ajaran Islam dan bukan etika ikhwan

Kedelapan, Do’a untuk qiyadah. Kita seluruhnya bisa saja menjadi qiyadah. Kita
punya kedudukan yang sama, karena qiyadah bukan faktor keturunan melainkan diukur
dari apa yang dilakukan seseorang ini pada dakwah, pada pemikirannya, pada
komitmennya, pada kontribusinya. Kita bila menghormati qiyadah dan meletakkannya
pada tempatnya, itu artinya kita menghormati diri sendiri.
Ikhwah sekalian,
Ingat, bahwa buah ukhuwwah, akan kembali pada diri kita sendiri, pada jamaah,
pada masyarakat, dan pada lingkup yang luas dari itu. Jika kita saling mencinta karena
Allah, dan kita ikhlash, mudah mudahan itu menjadi bekal kita bisa menggenggam
kemenangan dengan dakwah ini.



Sumber: http://www.mahabbatullah.tk/2009_11_11_archive.html

Wahyu Andika

Jumlah posting : 15
Join date : 23.01.10

Lihat profil user

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik